“APA KATA DUNIA?..”

Menguak Khazanah Pemikiran dan Intelektual Keilmuan

Beragama Dengan Akal Sehat

Ketika kita menyakini agama sebagai satu-satunya sumber kebenaran, seringkali kita terperangkap pada dikotomi benar salah, apalagi kalau kebenaran itu kemudian di ikuti dengan sikap memutlakkan, akibatnya apa-apa yang dianggap tidak sepaham dengan kita akan di anggap salah – baca:sesat – . Ironisnya lagi pemahaman seperti itu kemudian di ikuti tindakan refresif dan kekerasan dengan berdalih atas nama membela agama Tuhan. Terlepas dari benarkah tindakan itu, yang pasti berakibat pada pencitraan islam sebagai agama kekerasan. 

 

Jika berani jujur, berkali-kali umat islam mengungkapkan islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam), kamil (sempurna), syamil (menyeluruh). Barang siapa memeluknya dijamin kehidupannya mulia tetapi jika kenyataannya terbalik; tidak mulia, maka ada dua kemungkinan: “agama islam tidak rahmatan lil ‘alamin, bukan agama kamil, dan bukan pula agama syamil. Dan pasti kita akan mengatakan, kemungkinan ini sama sekali salah. Kemungkinan kedua, islam benar-benar rahmatan lil ‘alamin, agama kamil dan syamil, tetapi karena suatu sebab islam menjadi tidak rahmatan lil ‘alamin tidak kamil dan tidak syamil. Dan kita tidak butuh apa-apa lagi selain mencari apa sebab-sebab itu dan membuktikan bahwa islam adalah rahmatan lil ‘alamin, kamil dan syamil.

Kalau kita yakin tentang kebenaran islam, tetapi keadaan kita tidak menajdi baik, berarti kita tidak mampu melaksanakan kebenaran islam. Berarti ada yang tidak tepat dalam mengejewantahkan ajaran islam dalam praktik keseharian. Dan ketidakmampuan itu ada dua kemungkinan; pertama karena ajarannya tidak dilaksanakan. Kedua, pemehaman yang tidak tepat terhadasp ajaran agama islam. Dan lagi-lagi kita harus jujur bahwa kadang-kadang kita tidak melaksanakan ajaran agama islam, mungkin juga kita tidak tepat dalam memahami ajaran islam.

Jika memahami bahwa menghentikan kemungkaran harus dengan tangan, dan menghentikan kedzaliman harus dengan peperangan, maka bagaimana akibatnya kalau kemungkaran menjadi sembunyi-sembunyi, dan kalau dalam kekerasan islam semakin menjadi “teraniaya”? Apakah cara lain selain kekerasan dan perang tidak dibenarkan dalam islam?

Memang kemunkaran dan kedzaliman harus dihentikan. Tapi adakah cara yang lebih baik untuk menghentiannya bukan cuma secara fisik tetapi juga hati para pelakunya. Memang dalam islam memerintahkan mencegah kemungkaran dengan tangan, lisan atau hati, tapi bukankah juga ada perintah untuk mengajak ke jalan tuhan dengan hikmah (bijaksana) dan tutur kata yang bagus?.

Pemahaman terhadap islam harus dilakukan secara lengkap, utuh, dan dari berbagi sisi, sehingga menghasilkan wajah islam yang utuh, memberikan kedamaian, kerukunan, kesetabilan, dan kesejahteraan umat manusia. Pemahaman terhadap islam tidak cukup mengambil satu dalil lalu beranggapan islam itu hanya seperti yang ia ketahui, dengan berdalih ini yang sesuai dengan ajaran tuhan. Pemahaman seperti itu cenderung membuat tidak toleran dan eksklusif.

Pemahaman terhadap islam memang tidak akan pernah berhenti dan akan terus berjalan, karena permasalah umat juga berjalan terus tanpa henti. Semakin banyak permasalah di dalam kehidupan umat, berarti semakin banyak pula yang harus kita pikirkan, dikerjakan dan diselesaikan??. lagi-lagi dalam hal ini dibutuhkan kejernihan akal sehat dalam memahami keberagamaan ajaran islam kita selama ini.

Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Pendidikan , , , , ,

2 Responses

  1. JheLLie MaesTro mengatakan:

    Salam kenal mas, artikelnya bangus …
    Disini tempat kita ngumpul2 http://opinikampus.wordpress.com…kita tunggu dech..

  2. infowira mengatakan:

    Persis sama dengan yang saya kuatirkan dan akhirnya saya tulis jg diblog saya tentang tilogi agama dimataku..bagi saya agama sederajat dengan ilmu pengetahuan lain ciptaan manusia seperti matematika atau ekonomi dan tujuannya pun sama yaitu memperbaiki kehidupan manusia itu sendiri…

    tapi pada prakteknya manusia yg punya sifat egois ingin selalu dianggap lebih baik dari yg lain dan dengan agama yg mengadung doktrin2 konsep ketuhanan akhirnya disalah gunakan lalu jika kita bersifat kritis akhirnya dibilang kita tidak percaya atau tidak mengimani agama tsb..konyol sekali kan?

    saya yakin sekali kalo kita mau membedah ajaran dalam suatu agama pasti akan ada titik temu antara agama dengan ilmu pengetahuan lain terutama sains

    untuk sementara karena kita masih cukup bodoh akhirnya kita main percaya aja sampe2 percaya membabi buta..

    semoga semakin banyak orang berpikiran luas seperti anda juga mas..

    dunianyawira.wordpress.com

Leave a Reply