Berikut ini beberapa pertanyaan terkait dengan konsep khilafah:
Pertama, amat tidak mudah mencari rumusan khilafah yang disepakati oleh seluruh umat Islam yang menyebar di sejumlah kawasan dunia. Konsep khilafah yang diusung oleh “teman-teman pengusung konsep khilafah” adalah hanya salah satu rumusan dari Taqiyuddin al-Nabhani, yang belum tentu diamini oleh para ulama yang lain. Dalam konteks Indonesia, agak sulit dibayangkan bagaimana umat Islam bisa satu kata untuk menerima satu konsep mengenai khilafah. Eksperimentasi khilafah model siapa? Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, atau yang lainnya? Read the rest of this entry »
Filed under: Agama, Education, islam
Januari 29, 2009 • 11:31 pm
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang mengharamkan rakyat Indonesia yang berhak memilih untuk tidak mencoblos (golput) dalam pemilu. Para ulama di MUI pastilah memiliki referensi, dasar hukum, serta ijtihad sebelum membuat fatwa yang mengharamkan golput.
Read the rest of this entry »
Filed under: Agama, Pendidikan, islam , Agama, islam, Pendidikan
Menyikapi fatwa MUI, muncul anekdot di masyarakat. Misalnya, tentang fatwa rokok haram. Pastilah umat Islam akan menghindari rokok karena itu syarat untuk masuk surga. Namun, umat Islam Indonesia akan kaget jika di surga nanti bertemu saudara sesama muslim dari negara lain. Akan muncul pertanyaan, “Kok dia masuk surga, padahal di negaranya, rokok yang katanya haram masih dikonsumsi?”
Dalam kurun waktu terakhir, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan beberapa fatwa yang mengatur kehidupan masyarakat. Nilai positif yang muncul, MUI menunjukkan ketegasannya. Entah ketegasan itu bermakna sebuah eksistensi kelembagaan atau yang lain. Kekhawatiran pun muncul jika fenomena itu hanya spontanitas dalam merespons realitas kehidupan sosial. Artinya, kebijakan tersebut muncul hanya sebagai pendukung. Bukan berdasar doktrin agama yang ada.
Read the rest of this entry »
Filed under: Agama, Pendidikan, islam , Agama, islam, Pemahaman

Fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok dan masalah golput menarik perhatian masyarakat. Sederhana saja, rokok dan golput menyangkut nasib jutaan orang. Apalagi, masalah rokok juga menyangkut periuk nasi sekaligus kesehatan jutaan orang.
Sialnya, fatwa MUI tentang dua hal penting tersebut terkesan setengah hati. Soal fatwa haram merokok, misalnya. Mengapa MUI hanya membatasi untuk anak-anak, remaja, dan wanita hamil, serta mereka yang merokok di tempat umum? Fatwa itu seolah membolehkan atau menghalalkan orang dewasa, wanita tidak hamil, dst merokok sendirian di kamar.
Padahal, duduk masalahnya jelas bahwa sesuatu dianggap haram jika menyebabkan diri sendiri dan orang lain menderita. Atau dalam bahasa yang lebih gampang, jika banyak mudaratnya dibandingkan dengan manfaatnya. Read the rest of this entry »
Filed under: Agama, Pendidikan, islam
Wacana, secara garis besar menurut kamus (KBBI), bermakna ucapan; perkataan; tutur atau keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan. Sebagai contoh, ungkapan seperti, ”Masalah ini baru merupakan wacana”, berarti baru merupakan tuturan.
Wacana berbeda dengan fatwa, yang menurut kamus berarti: jawab (keputusan, pendapat) yang diberikan oleh mufti tentang suatu masalah; atau secara kiasan: nasihat orang alim; pelajaran baik; petuah. Dan lebih berbeda lagi dengan vonis, yang berarti putusan hakim atau hukuman.
Dalam kitab-kitab fikih, mufti, pemberi fatwa, dibedakan dengan hakim. Mufti hanya memberikan informasi kepada dan sesuai pertanyaan si peminta fatwa. Sementara hakim memutuskan hukuman setelah mendengarkan berbagai pihak seperti penuntut, terdakwa, dan saksi-saksi. Berbeda dengan putusan hakim, fatwa tidak memiliki kekuatan memaksa. Tidak mengikat kecuali bagi si peminta fatwa. Read the rest of this entry »
Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Matematika, Religion , Agama, islam
Oktober 20, 2008 • 10:52 pm
Sama seperti novelnya, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang laku setengah juta eksemplar itu, ketika difilmkan -digarap Riri Riza dan Mira Lesmana- juga sama larisnya. (Jati Diri Jawa Pos 15 Oktober 2008).Bahkan, para tokoh negeri ini ikut nonton dan memberikan apresiasi. Mantan aktivis mahasiswa ITB dan Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan M. Fadjroel Rachman memuji Riri, Mira, dan Andrea Hirata dengan memberi sebutan kepada mereka sebagai seniman dan filsuf politik.
Menurut Fadjroel, apa yang disuguhkan ini suatu kritik politik yang cukup berhasil terhadap kehidupan bangsa ini. Sultan Hamengku Buwono X tertarik kepada relasi antara Ikal (tokoh utama) dan A Ling. Namun, Sultan juga melihat Laskar Pelangi sebagai pelajaran tentang panggilan hidup masyarakat plural (Kompas, 8 Oktober 2008).
baca selengkapnya di sini
Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Dunia Matematika, Education, Link Pendidikan, Matematika, Pendidikan, Science
Ketika kita menyakini agama sebagai satu-satunya sumber kebenaran, seringkali kita terperangkap pada dikotomi benar salah, apalagi kalau kebenaran itu kemudian di ikuti dengan sikap memutlakkan, akibatnya apa-apa yang dianggap tidak sepaham dengan kita akan di anggap salah – baca:sesat – . Ironisnya lagi pemahaman seperti itu kemudian di ikuti tindakan refresif dan kekerasan dengan berdalih atas nama membela agama Tuhan. Terlepas dari benarkah tindakan itu, yang pasti berakibat pada pencitraan islam sebagai agama kekerasan.
klik di sini untuk selengkapnya
Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Pendidikan , Agama, Ajaran, islam, Pemahaman, Pendidikan
Desember 22, 2007 • 1:11 am
Tiap tanggal 22 Desember masyarakat diingatkan agar tidak melupakan kaum ibu. Karena itu, tiap 22 Desember dijadikan sebagai Hari Ibu. Hari “seremonial” untuk mengingatkan kita kepada kaum ibu. Selengkapnya Klik di sini
Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Biografi tokoh, Diary Kehidupanku, Education, Link Pendidikan, Pendidikan, Prosa Kehidupan , ibu, makna
Desember 13, 2007 • 10:25 pm
Setiap tahun dalam kalender islam, umat islam paling tidak merayakan dua hari raya penting yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Patut kiranya bagi kita untuk merefleksi, apa sebenarnya makna dan pesan moral yang terkandung dari setiap perayaan itu sehingga tidak hanya bermakna relegius semata tetapi lebih dari itu, kita bisa melakukan langkah-langkah konstruktif untuk melakukan perubahan dalam kehidupan ini,.
Dan Idul Adha yang juga sering di sebut idul qurban telah dinyatakan dengan tegas oleh Tuhan dalam kitab suci-Nya;
“Telah kami tebarkan nikmat yang banyak kepadamu, maka dirikanlah sholat dan berkurbanlah” (Qs, 108:1-2).
Teks ini dan riwayat qurban yang sering dikaitkan dengan sejarah kehidupan nabi Ibrahim hendaknya tidak dimaknai secara leksikal dan tekstual, karena setiap teks berhubungan dengan konteks kejadian yang menyertainya. Pemaknaan secara konstektual juga akan berguna untuk menemukan makna yang transformatif dan radikal, sehingga teks akan senantiasa hidup, dinamis, dan berkesesuaian dengan zaman.
Orang kadang sering lupa antara simbol dan substansi. Banyak orang yang sering berkurban secara formal tiap tahunnya sebanyak-banyaknya, akan tetapi substansi ibadah kurban sebagaimana yang dicerminkan dari Ibrahim yaitu untuk mengikis egoisitas diri Ibrahim, absen dari kehidupan sehari-hari.
Kurban yang sebenarnya harus berdampak sosial dan menumbuhkan keberagaman sejati pada orang yang melaksanakan, sehingga berkurban bukan sekedar menyembelih kambing, sapi dan yang sejenisnya, tetapi hendaklah kita berani berkurban dengan MENGURBANKAN EGO, KEPENTINGAN, HARTA BENDA, perhatian kita, dan urusan-urusan lain demi solidaritas kita terhadap sesama.
Filed under: Agama, Artikel Pendidikan, Blog Kehidupan, Catatan kehidupan, Diary Kehidupanku, Gubuk Pesantren, Religion , Agama, hari raya, islam
November 14, 2007 • 11:15 am
Islam diturunkan sebagai misi penyelamatan, bukan amunisi penyesatan. Namun, cita-cita ini tidak terjadi pada beberapa kalangan, khususnya mereka yang mengeluarkan sepuluh kriteria ajaran/kelompok yang dianggap “sesat dan menyesatkan”.Terbitnya kriteria itu semakin meyakinkan publik bahwa mereka -dengan berlindung di balik otoritas Islam- bisanya hanya melakukan penyesatan dan pengafiran, tidak memperbanyak bimbingan terhadap umat. Selengkapnya baca di sini
Filed under: Agama
Oktober 16, 2007 • 5:21 am
Mungkin ini bukan yang pertama kalinya terjadi, bahkan di tahun kemarin saya harus merayakan idul fitri dengan mengawali terlebih dahulu dari yang dirayakan kebanyakan orang. Di tempat saya selama ini memang sudah terbiasa melakukan perhitungan (hisab) sendiri untuk menentukan awal bulan, terutama 1 Ramadhan dan 1 Syawal, dan kami percaya dari hasil hisab yang diperoleh itu….kami memahami
صوموا لرؤيته , و افطروا لرؤيته …
Berpuasalah kalian karena melihat Ru’yah, dan berbukalah (maksudnya : Idul Fitri) kalian karena melihat ru’yah.
Read the rest of this entry »
Filed under: Agama , awal puasa, awal ramadhan, Hisab, ru'yah
Oktober 6, 2007 • 1:43 am
Ketika kata telah panjang dan ketika tingkah tak lagi indah,
saat kami untuk merendah dengan segala kata maaf,
di hari nan fitri ini,
ku bersimpuh bersujud,
Mohon maaf atas salah dan khilaf,
Minal ‘aidin wal Faidzin, semoga dihari nan suci ini kita kembali fitrah dimata Allah Sang Maha Pemaaf
Filed under: Agama
Kata Mereka?...